Malam itu hujan deras mengguyur jalan kecil di kawasan Wonokromo, Surabaya. Jam dinding di dalam Toko Kelontong “Lina Sejahtera” menunjukkan pukul 23.45 WIB. Toko kecil itu sudah sepi, hanya lampu neon kuning redup yang menyala di atas rak-rak mie instan, rokok, dan minuman. Bu Rina, penjaga toko berusia 38 tahun, berdiri di belakang counter sambil menghela napas panjang. Tubuhnya masih montok dan menggoda meski sudah janda dua tahun—payudaranya 36E yang berat dan penuh, pinggul lebar, paha tebal mulus, kulit sawo matang yang selalu terawat dengan lotion murah. Rambutnya diikat ponytail sederhana, kaos oblong putih ketatnya basah keringat karena udara pengap, memperlihatkan bra hitam yang menahan payudara besarnya. Rok jeans pendeknya naik sedikit saat ia membungkuk membersihkan lantai.
Suaminya sudah meninggal, anaknya satu tinggal di kosan dekat kampus. Malam ini Rina sendirian, seperti biasa. Ia baru mau menutup toko ketika pintu kaca berderit terbuka. Tiga pemuda masuk sambil tertawa keras, baju hoodie basah kuyup. Ardi, 22 tahun, paling depan—tinggi tegap, rambut cepak, tatapannya ganas. Wahyu, 21 tahun, lebih kurus tapi licik, senyumnya miring. Deril, 23 tahun, paling besar badannya, otot lengan menonjol, wajahnya datar tapi mata lapar.
“Malam Bu… masih buka kan?” tanya Ardi sambil mengunci pintu toko dari dalam dengan kunci cadangan yang tergantung di dinding. Klik. Suara itu membuat Rina menegang.
“Eh… iya Mas, tapi sudah mau tutup. Hujan deras, kalian mau beli apa?” Rina berusaha ramah, tapi suaranya gemetar. Ia mundur selangkah ke belakang counter.
Wahyu tertawa kecil, matanya langsung menelanjangi dada Rina. “Beli… Bu Rina aja. Kami liat dari luar, Bu sendirian. Toko sepi. Enak nih.”
Rina merasa jantungnya berdegup kencang. “Mas… jangan bercanda. Kalau mau beli rokok atau mie, ambil cepat. Aku mau pulang.”
Deril berjalan mendekat ke counter, tangannya besar langsung meraih pergelangan tangan Rina. “Pulang? Belum Bu. Malam ini kita mau main dulu sama Bu. Kami udah ngamatin Bu dari kemarin-kemarin. Payudara Bu besar banget, pantat Bu montok. Kami mau ngentot Bu Rina malam ini.”
Rina menarik tangannya kasar, wajahnya pucat. “Lepasin! Kalian gila ya? Aku teriak! Ada orang lewat!”
Ardi mendekat dari samping, tangannya langsung memeluk pinggang Rina dari belakang dan meremas payudaranya kasar dari luar kaos. “Teriak aja Bu. Hujan deras, jalan sepi. Gak ada yang denger. Kalau Bu teriak, kami bakar toko ini. Atau… kami rekam video Bu lagi ngentot, terus sebar ke tetangga. Pilih mana?”
Rina meronta, air mata mulai menggenang. “Jangan… tolong… aku gak mau… aku janda baik-baik… lepaskan aku Mas… please…”
Wahyu sudah naik ke atas counter, duduk di depan Rina sambil membuka resleting celananya. “Gak ada tolong-tolongan Bu. Malam ini Bu Rina jadi milik kami bertiga. Ardi, Deril, pegang dia kuat. Aku mau dulu yang isap kontol.”
Deril memeluk Rina dari belakang, tangan besarnya mencengkeram kedua payudara Rina dan meremasnya kuat sampai Rina meringis. “Payudara Bu enak… berat… empuk. Kaosnya basah keringat, bau enak.” Ia menarik kaos Rina ke atas paksa, bra hitam terlepas dengan satu tarikan. Payudara besar Rina melambung keluar, puting cokelatnya sudah mengeras karena dingin dan ketakutan.
“Jangan! Aduh sakit… lepaskan… aku gak mau… tolong jangan sentuh aku!” jerit Rina, tubuhnya meronta tapi Deril terlalu kuat. Ardi menahan kaki Rina agar tak bisa menendang.
Ardi tertawa. “Bu Rina… badan Bu panas. Memek Bu pasti sudah basah ketakutan. Kami mau paksa Bu nikmatin kontol kami yang besar-besar. Lihat nih.”
Wahyu mengeluarkan kontolnya dulu—19 cm, tebal, kepala merah mengkilap. “Buka mulut Bu. Isap kontol aku. Kalau gak mau, aku tampar muka Bu.”
Rina menggeleng keras, bibirnya tertutup rapat. “Gak… aku gak mau… kumohon… jangan paksa…”
Deril menjepit kedua pipi Rina dengan satu tangan, memaksa mulutnya terbuka. “Buka! Sekarang!”
Wahyu langsung mendorong kontolnya masuk ke mulut Rina. “Glek! Isap Bu… isap kuat… ya gitu… mulut guru toko enak banget…”
Rina muntah-muntah, air mata mengalir. “Glek… glek… hhh… jangan… keluarin…” tapi Wahyu memegang kepalanya dan mengentot mulutnya kasar. Air liur Rina menetes ke dagu, ke payudaranya.
Ardi melepas celananya. Kontolnya lebih besar—21 cm, urat tebal. “Gantian aku. Bu Rina, sekarang isap kontol aku. Deril, kamu buka roknya. Lihat memeknya.”
Deril menarik rok jeans Rina ke bawah paksa bersama celana dalamnya. Memek Rina tercukur rapi, bibir tebal sudah sedikit basah meski ia menangis. “Wah… memek Bu Rina pink… basah juga. Bu pura-pura gak mau tapi memeknya nunggu kontol.”
Rina menangis sambil mengisap kontol Ardi bergantian. “Hiks… jangan… aku gak suka… keluarin kontolnya dari mulut aku… please Mas Ardi… Mas Wahyu… Mas Deril… aku punya anak…”
Ardi menampar pipi Rina pelan tapi nyaring. “Diem Bu. Anak Bu gak usah tahu. Sekarang kami mau ngentot memek Bu. Naik ke counter, telentang. Kaki dibuka lebar.”
Rina meronta lagi tapi tiga pemuda itu mengangkat tubuhnya seperti boneka. Mereka membaringkan Rina di atas meja counter yang dingin. Kakinya dibuka lebar oleh Deril dan Wahyu. Ardi berdiri di antara pahanya, kontolnya menempel di bibir memek Rina.
“Jangan Mas… aku mohon… jangan masukin… aku gak pernah sama orang lain sejak suami mati… tolong… sakit nanti…” Rina menangis tersedu.
Ardi menggesek kepala kontolnya di klitoris Rina. “Basah Bu… lihat… memek Bu banjir. Katanya gak mau tapi cairannya keluar.” Ia mendorong pelan tapi kuat. Kepala kontol masuk, meregang memek Rina.
“Ahhh! Sakit! Keluarin… besar banget… aduh… robek… jangan dorong lagi!” jerit Rina.
Ardi terus mendorong sampai pangkal. “Masuk semua Bu… memek Bu ketat… panas… enak banget. Sekarang aku ngentot Bu Rina.”
Ia mulai mengentot kasar, keluar masuk panjang. Bunyi “plok plok plok” basah memenuhi toko. Payudara Rina bergoyang-goyang setiap dorongan.
“Lebih pelan Mas… sakit… ahh… jangan keras-keras… hiks… aku gak tahan…” Rina menangis tapi pinggulnya sedikit bergerak mengikuti.
Wahyu tertawa sambil meremas payudara Rina. “Lihat Wahyu, Deril… Bu Rina mulai enak. Mulutnya bilang gak mau, tapi memeknya ngisep kontol Ardi.”
Deril mengusap bibir memek Rina yang meregang di sekitar kontol Ardi. “Benar… cairan Bu banyak. Bu Rina jalang juga ya sebenarnya.”
Ardi mengentot semakin cepat, tangannya menampar payudara Rina. “Bilang Bu… kontol aku enak gak? Bilang ‘Ardi ngentot memek aku enak’ atau aku tambah keras!”
Rina menangis tapi suaranya mulai pecah. “Hiks… enak… Ardi ngentot memek aku enak… ahh… lebih pelan… rahim aku kena terus…”
Wahyu tak sabar. “Gantian aku. Ardi keluar dulu. Aku mau doggy.”
Mereka balik tubuh Rina jadi doggy style di counter. Pantat montok Rina terangkat. Wahyu langsung sodok kontolnya dari belakang dengan satu dorongan ganas.
“Plok! Ahhhh! Dalam banget Mas Wahyu… kontol kamu panjang… nyodok rahim… sakit… jangan tarik rambut aku!”
Wahyu menarik ponytail Rina seperti tali kekang. “Goyang pantat Bu… goyang sendiri… tunjukin kalau Bu suka dikentot pemuda.”
Rina menggoyang pantatnya pelan sambil menangis. “Gini Mas… enak gak… hiks… aku lakuin apa aja… asal jangan bunuh aku…”
Deril berdiri di depan wajah Rina, kontolnya yang 22 cm terbesar dimasukkan ke mulut Rina. “Isap Deril juga Bu. Sekarang tiga lubang Bu diisi kami. Mulut, memek, nanti anal.”
Rina mengisap sambil tercekik. “Glek… glek… hhh… kontol Deril terlalu besar… tenggorokan aku penuh…”
Mereka bergantian mengentot Rina hampir 20 menit di posisi doggy. Ardi cum pertama di dalam memek Rina. “Ahh… Bu… keluar… banyak… isi rahim Bu Rina!”
Sperma panas menyembur deras. Rina merasakan banjir di dalam. “Jangan di dalam Mas… aku gak pakai pil… hamil nanti… keluarin…”
Tapi Ardi tertawa. “Terlambat Bu. Sekarang gantian Deril.”
Deril menggantikan, kontolnya lebih tebal. Ia memasukkan dengan kasar. “Memek Bu sudah penuh sperma Ardi… licin banget… enak… aku mau entot lebih lama.”
Rina menjerit. “Aduh… tebal banget Deril… memek aku melar… sakit… pelan Mas… pelan…”
Deril mengentot ganas, tangannya menampar pantat Rina sampai merah. “Suka Bu? Suka dikentot kasar? Bilang ‘Deril entot pantat aku keras’!”
Rina menangis tapi menurut. “Deril… entot pantat aku keras… ahh… kontol kamu hancurkan memek aku… hiks… aku mau mati aja…”
Wahyu tertawa di samping, meremas payudara Rina. “Bu Rina cantik kalau nangis. Besok kami datang lagi tiap malam. Bu harus siapin memek dan pantat buat kami.”
Setelah Deril cum kedua di dalam memek Rina (total sperma sudah banjir), mereka istirahat sebentar. Rina terbaring lemas di counter, cairan sperma mengalir dari memeknya ke lantai.
“Tolong… sudah ya Mas… aku capek… sakit… jangan lagi…” pinta Rina lemah.
Ardi menggeleng. “Belum selesai Bu. Sekarang kami mau anal. Deril, angkat pantat Bu. Wahyu, kamu pegang tangannya.”
Rina panik. “Jangan anal! Aku belum pernah… sakit banget… kumohon… jangan lubang itu!”
Deril melumasi kontolnya dengan sperma yang menetes dari memek Rina, lalu tekan ke lubang anal Rina yang kecil dan pink. “Pelan dulu Bu… tapi tetap masuk.”
Kepala kontol masuk. Rina menjerit keras. “Aaaahhh! Sakit! Keluarin… pantat aku robek… aduh… jangan dorong… tolong…”
Deril terus mendorong sampai setengah. “Masuk Bu… anal Bu ketat… panas… enak… sekarang aku gerak.”
Ia mengentot anal Rina pelan dulu, lalu semakin cepat. Rina menangis tersedu-sedu. “Hiks… sakit… tapi… agak enak… jangan cepat Deril… ahh… pantat aku penuh kontol kamu…”
Wahyu memaksa Rina mengisap kontolnya lagi. “Isap sambil di-entot anal Bu. Biar semua lubang sibuk.”
Ardi meremas payudara Rina dan mencubit putingnya. “Bu Rina… cerita dong… kapan terakhir kali Bu ngentot sebelum kami? Bilang sambil isap kontol Wahyu.”
Rina tercekik kontol Wahyu. “Glek… sejak… suami mati… dua tahun… aku gak pernah… hiks… sekarang kalian paksa… ahh… Deril… pelan di pantat…”
Mereka bergantian anal hampir 15 menit. Deril cum di anal Rina. Lalu Wahyu gantian, lalu Ardi. Setiap kali Rina menjerit, memohon, tapi tubuhnya mulai bereaksi—memeknya banjir cairan sendiri.
“Bu… memek Bu basah lagi gara-gara anal,” goda Ardi sambil mengentot anal Rina. “Bilang ‘aku suka dikentot paksa sama tiga pemuda’!”
Rina menangis tapi suaranya gemetar nikmat. “Aku… suka dikentot paksa… sama Ardi… Wahyu… Deril… ahh… kontol kalian besar… hancurkan aku…”
Mereka pindah posisi ke lantai toko. Rina ditidurkan telentang. Ardi naik di atas, missionary sambil mengentot memek. Wahyu duduk di wajah Rina, memaksa Rina jilat anusnya. Deril meremas payudara dan memaksa Rina remas kontolnya.
“Jilat anus Wahyu Bu… dalam… ya gitu… enak,” perintah Wahyu.
Rina menjilat sambil terisak. “Enak gak Mas… aku lakuin… jangan sakiti aku lagi…”
Dialog terus mengalir selama hampir satu jam.
Ardi: “Bu Rina… memek Bu sekarang longgar gara-gara kontol kami. Besok kami bawa temen lagi ya?”
Rina: “Jangan… cukup kalian bertiga… aku mohon… ahh… Ardi… kontol kamu ngena di titik G aku… lebih cepat… tapi jangan kasar…”
Wahyu: “Lihat Deril, Bu Rina mulai minta sendiri. Jalang toko ini ketagihan.”
Deril: “Iya. Bu, cerita… Bu suka kontol siapa yang paling besar?”
Rina: “Deril… kontol Deril paling tebal… bikin memek aku melar… ahh… aku cum… hiks… aku cum lagi gara-gara kalian…”
Rina orgasme paksa berkali-kali meski menangis. Tubuhnya berkhianat.
Mereka ganti ke double penetration. Wahyu di bawah, mengentot memek. Deril di atas, mengentot anal. Ardi di mulut.
Rina menjerit penuh. “Dua kontol sekaligus… penuh… aku mau pecah… sakit… enak… tolong pelan… ahhh… aku cum lagi!”
“Plok plok plok plok” suara tabrakan memenuhi toko. Keringat, air mata, sperma, cairan memek basahi lantai.
Mereka cum bergantian: Ardi di mulut Rina (“Telan semua Bu… minum sperma kami!”), Wahyu di memek, Deril di anal.
Total sperma mereka enam kali—dua di memek, dua di anal, dua di mulut Rina.
Jam sudah pukul 02.30. Rina terbaring lemas, tubuh penuh memar merah, memek dan anal menganga penuh sperma kental yang mengalir.
Ardi berdiri, mengelus rambut Rina yang acak-acakan. “Malam ini enak Bu. Besok kami datang lagi jam 11 malam. Kalau Bu tutup toko atau lapor polisi, kami bakar toko dan sebar video yang kami rekam diam-diam tadi.”
Wahyu menunjukkan ponselnya—ia diam-diam merekam sejak awal. “Lihat Bu… video Bu nangis minta tolong sambil goyang pantat. Bagus kan?”
Deril mencium kening Rina kasar. “Besok pakai rok lebih pendek Bu. Tanpa celana dalam. Kami mau langsung angkat rok dan ngentot di counter.”
Rina hanya bisa menangis pelan, suaranya serak. “Iya Mas… aku janji… aku akan siap… jangan sebar video… tolong… aku lakuin apa saja…”
Tiga pemuda itu tertawa puas. Mereka memakai baju, membuka kunci pintu, dan pergi meninggalkan Rina telanjang di lantai toko yang berantakan.
Rina bangkit pelan, memegang perutnya yang penuh sperma. Ia menangis tersedu. “Ya Tuhan… apa yang aku lakukan… tapi… kenapa memek aku masih berdenyut…”
Malam berikutnya, seperti janji, toko tetap buka sampai larut. Rina sudah pakai rok pendek tanpa celana dalam, payudaranya tanpa bra di balik kaos tipis. Ketika pintu terbuka dan tiga pemuda masuk lagi, Rina langsung berlutut di depan mereka.
“Mas Ardi… Mas Wahyu… Mas Deril… malam ini… paksa aku lagi ya… aku sudah siap… entot penjaga toko ini sepuasnya…”
Dan begitulah malam-malam selanjutnya berlanjut—tiga pemuda muda memaksa ngentot Bu Rina setiap malam di toko sepi, adegan semakin liar, dialog semakin kotor, Rina dari korban menjadi ketagihan paksaan mereka. Setiap malam penuh jeritan, tangisan, desahan, sperma, dan kenikmatan gelap yang tak berakhir.
ns216.73.216.134da2


