Istriku memang bukan sekadar cantik. Ayasha itu seperti lukisan yang hidup: kulitnya halus bak kelopak teratai, matanya besar dengan bulu mata yang seolah-olah dicat Tuhan sendiri, dan bibirnya, ya Tuhan, bibirnya yang selalu merah muda itu membuatku ingin menggigitnya setiap kali ia tersenyum. Tapi yang paling membuatku gila adalah caranya berjalan. Seperti ada musik dalam langkahnya, seperti ia tahu betapa aku tergila-gila pada pantatnya yang montok itu bergoyang setiap kali ia melintas di depan televisi saat aku sedang nonton bola.
780Please respect copyright.PENANAorn3wJzQ4y
"Ayah, kok senyum-senyum sendiri?" tanyanya suatu malam ketika aku terbangun dari lamunan, tangannya sedang mengaduk soto di dapur. Aku hanya menggeleng, menatapnya dari belakang, memandangi cara blusnya ketat membentuk punggungnya, bagaimana rambut hitamnya yang panjang itu bergerak mengikuti gerakan bahunya.
780Please respect copyright.PENANAHyBG2eNVy8
"Nggak, cuma mikir betapa aku beruntung punya istri yang jago masak," jawabku sambil mendekat, mencium aroma kemanginya yang selalu menempel di leher.
780Please respect copyright.PENANAiKqVDth3uY
Tapi jangan salah. Di balik wajah solehahnya, jilbabnya yang rapi, caranya berbusana sopan di depan umum, Ayasha di ranjang itu seperti api. Aku tidak pernah perlu memintanya. Justru ia yang sering membangunkanku tengah malam dengan tangannya yang sudah merayap ke celanaku, atau mendorongku ke sofa ketika anak-anak sudah tidur, dengan tatapan yang bilang, *Aku mau sekarang*. Dan Tuhan tahu, aku tidak pernah bisa menolak. Caranya menggigit bibir bawahku, cara jarinya mencengkeram bahuku, seolah-olah ia takut aku akan hilang kalau tidak memegangku erat-erat.
780Please respect copyright.PENANAV7YVh7sqyg
Ada satu malam yang tidak akan pernah kulupa. Hujan deras, listrik padam, dan kami berdua terbangun karena bunyi petir. Dalam gelap, aku meraba mencari senternya, tapi yang kutemukan justru tangannya yang sudah meremas keras di celanaku. "Ayah nggak ngantuk kan?" bisiknya, dan sebelum sempat kujawab, mulutnya sudah menutup mulutku, lidahnya seperti ingin menelan seluruh nafasku.
780Please respect copyright.PENANAUJx23Nj9RN
Di tengah deru hujan, dalam kegelapan yang hanya diterangi sesekali oleh kilat, kami seperti dua orang asing yang baru pertama kali bertemu, gila, lapar, tidak peduli apa pun selain kulit yang saling melekat.
780Please respect copyright.PENANArOsCpLrn0r
---
Kilat berikutnya menyambar, membekaskan bayangan tubuh Ayasha yang melengkung di atasku, rambutnya yang basah oleh keringat terjuntai seperti tirai hitam, matanya setengah tertutup, bibirnya terbuka lebar oleh desahan. "Jangan berhenti," bisiknya, suaranya serak, tangannya mencengkeram pergelangan tanganku dengan kekuatan yang membuatku terkesima. Dalam kegelapan itu, kami seperti dua penari yang hafal setiap inci gerak tubuh satu sama lain, tanpa perlu melihat, tanpa perlu bicara.
780Please respect copyright.PENANAwrul5j4yHX
Aku membalikkan posisinya dengan gerakan kasar yang membuatnya terengah-engah, punggungnya menekan kasur yang sudah basah oleh keringat kami.
780Please respect copyright.PENANAV9VTUNUsbb
"Ayah..." rintihnya ketika lidahku menjelajahi lekuk lehernya, gigitanku yang keras di bahu membuatnya menjerit kecil. Tangannya meraba-raba di kegelapan, menemukan gagang jendela, mencengkeramnya erat ketika aku mendorong lebih dalam, kayu berderit bersamaan dengan desahannya.
780Please respect copyright.PENANAIy27otZTJq
Posisi berganti lagi, kali ini dia yang di atas, menunggangiku dengan gerakan pinggul yang membuatku hampir kehilangan akal. Kilat menyambar lagi, dan untuk sesaat aku melihat wajahnya: dahi yang berkerut, alis yang naik turun mengikuti ritme kami, lidahnya yang menjilat bibir atasnya sendiri seperti kucing yang puas. "Aku mau..." bisiknya sebelum membungkuk, gigi-gigi kecilnya menggigit puting susuku, membuatku mendesah kasar. Tanganku meraih pantatnya, meremas keras, menikmati cara dagingnya mengisi celah jari-jariku.
780Please respect copyright.PENANA8itaPxfoBS
Tiba-tiba ia berhenti bergerak, aku merasakan tubuhnya mengencang. "Ada yang..." bisiknya waspada. Suara langkah kaki di teras. Kami membeku, masih tersambung erat, nafas yang tersengal-sengal. Suara itu berlalu, hanya angin malam, atau mungkin kucing. Ayasha tertawa geli, suaranya seperti dering bel kecil sebelum ia menunduk, menciumku dalam-dalam sambil perlahan mulai bergerak lagi. "Dasar penakut," godaku, yang dijawab dengan cubitan keras di paha.
780Please respect copyright.PENANAPFBaYbrvBA
Kami kehilangan hitungan berapa kali orgasme, berapa kali berganti posisi, di kursi berlengan, di lantai dengan karpet yang menggesek kulit, kembali ke ranjang ketika hujan mulai reda. Ketika fajar menyingsing dan listrik kembali menyala, kami tergeletak seperti bangkai, kulit yang lengket, rambut yang kusut, senyum yang lelah tapi puas. Ayasha memandangku dengan mata setengah tertutup, jarinya menelusuri bekas gigitan di bahuku. "Besok lagi?" bisiknya, dan sebelum sempat kujawab, ia sudah tertidur, kepalanya di dadaku, kakinya yang masih gemetar terselip di antara lenganku.
780Please respect copyright.PENANA2V6Pf8XFHv
___
780Please respect copyright.PENANAJulpU3PkT7
Bekas gigitan itu masih terasa perih ketika air shower menyentuh kulit bahuku pagi ini, tiga hari setelah malam hujan itu, seperti tusukan jarum kecil yang terus mengingatkanku pada Ayasha. Aku melihat ke cermin kabin kamar mandi: dua lingkaran merah kecil dengan titik ungu di tengahnya, persis seperti tanda yang ditinggalkan vampir dalam film-film. "Aduh, lagi-lagi," gerutuku sambil mengusap handuk kasar ke luka itu, membuatku mendesis. Ayasha sudah berkali-kali bilang "Maafin Ayah ya?" dengan bibir menyunggingkan senyum bersalah palsu itu, yang selalu diikuti gerakan tangannya meremas pantatku atau mencubit perutku, seolah luka kecil ini adalah tiket untuk lebih banyak kelakar fisik.
780Please respect copyright.PENANAWl9UFTKCO6
Di meja makan, aroma nasi goreng bawang putih Ayasha memenuhi ruangan. Ia berdiri di belakangku, tangan-tangannya yang dingin tiba-tiba menempel di bahuku yang masih perih. "Masih sakit?" bisiknya, nafas hangatnya menggelitik telingaku sebelum lidahnya yang licin menyentuh bekas lukanya. Aku menggeleng, tapi tubuhku bergidik, rasanya seperti listrik kecil mengalir dari tempat lidahnya menyentuh kulitku yang sensitif. "Nggak, cuma..." Kalimatku terpotong ketika tangannya sudah merayap ke dalam kemejaku, jari-jarinya yang lentik menekan puting susuku yang tiba-tiba mengeras. "Cuma apa?" godanya sambil menggigit cuping telingaku, membuatku menahan napas.
780Please respect copyright.PENANACHtzCGR3wQ
Kantor hari ini terasa berbeda. Setiap kali kemejaku bergesekan dengan luka itu, bayangan Ayasha muncul, wajahnya yang mendongak penuh napsu di kegelapan, tangan-tanamaninya yang mencengkeram sprei dengan kuku-kuku yang meninggalkan bekas di kulit pergelangan tanganku. Aku menyentuh bahuku lagi, kali ini di depan lift kantor, tidak sadar bahwa Reza sudah berdiri di sampingku dengan tas laptop di bahunya. "Luka perang?" tanyanya sambil menunjuk ke bahuku, matanya berbinar penuh arti. Aku tersipu tanpa sadar, Reza tahu. Tentu saja ia tahu.
780Please respect copyright.PENANADgLh3FLAOK
"Istri lo emang galak ya," tambahnya sambil tertawa, tapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat perutku berdebar aneh, semacam pengakuan diam-diam bahwa ia juga pernah merasakan 'kegalakan' yang sama.
780Please respect copyright.PENANAYyCTVkxEKS
780Please respect copyright.PENANA5gKRhGr7st
Sepanjang jam kerja dan rapat, pikiranku mengawang: bagaimana bisa Reza langsung tahu kalau luka di bahu ini karena istri?
780Please respect copyright.PENANAWbZH5VgiQX
Pertanyaan itu tidak pernah terjawab hingga akhirnya jam makan siang. Aku sengaja mengajak Reza makan berdua, ke restoran masakan Padang di seberang kantor. Aku traktir dia. Setelah makan dengan sangat lahap, kami melipir sebentar ke Starbucks. Di jam makan siang ini, cafe ini sangat ramai tapi untungnya kami masih bisa dapat tempat duduk.
780Please respect copyright.PENANANKlS13lrGb
Di tengah perbincangan receh soal kantor, aku termenung kembali. Dan sekali lagi, aku memberanikan diri untuk bertanya ke Reza, "kok bisa tahu kalau luka di bahu ini karena istri?"
780Please respect copyright.PENANAPakItkM7ii
Asap rokok Reza melingkar-lingkar di udara antara kami, membentuk bayangan samar. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi Starbucks yang empuk, matanya menyipit seperti sedang memecahkan teka-teki lucu.
780Please respect copyright.PENANAJiOMOVZQam
"Gua kan pernah punya pacar juga, dong," katanya sambil mengetuk-ngetuk abu rokoknya ke asbak kecil. Suaranya terlalu santai untuk sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan, dan justru itu yang membuatku menatapnya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di balik kelopak matanya yang setengah tertutup itu, semacam rahasia yang dengan sengaja dibiarkan setengah terbuka.
780Please respect copyright.PENANAJjLfsgf7bM
Aku mengangkat alisku saat ia menyeruput kopinya lagi, kali ini lebih dalam, seperti mencoba menenggelamkan sesuatu yang tidak ingin dikatakannya. "Pacar yang mana?" tanyaku sambil memainkan sendok di cangkirku yang sudah kosong. Reza hanya tersenyum, bukan senyum biasa, tapi senyum seseorang yang tahu lebih banyak dari yang ia ungkapkan. "Yang penting gua ngerti," jawabnya sambil menghela nafas, mengeluarkan asap dari hidungnya seperti naga dalam dongeng. Tangannya yang besar, lebih besar dari tanganku, memegang erat cangkir kopi, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaannya dengan ritme yang anehnya sama persis dengan ketukan Ayasha di meja dapur tadi pagi.
780Please respect copyright.PENANAXU2HqBjzDU
"Lo tau nggak," katanya tiba-tiba, matanya sekarang benar-benar menatapku, "kadang cewek itu nggak perlu lo ajari apa-apa. Mereka udah tau persis gimana caranya bikin lo..." Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat, lidahnya menjilat bibir atasnya sendiri, gerakan yang terlalu familiar.
780Please respect copyright.PENANAHdaEqZWXXn
"Merem melek" lanjutnya akhirnya, dan aku merasakan sesuatu bergerak di perutku. Bukan karena kata-katanya, tapi karena caranya mengatakannya, seolah-olah ia sedang menggambarkan sesuatu yang sangat spesifik, sesuatu yang ia alami sendiri.
780Please respect copyright.PENANA3TXDeRNmxB
Aku ingin menertawakannya, menggodanya tentang seberapa banyak pengalaman yang ia punya, tapi suara teleponku memotong pembicaraan. Ayasha. Foto profilnya muncul, wajahnya yang tersenyum dengan bibir merah muda yang basah oleh es krim, dan aku melihat mata Reza sekilas melihatnya sebelum ia berpaling, seolah-olah wajah itu terlalu terang untuk dilihat langsung. "Iya, Sayang?" jawabku, dan suara Ayasha di seberang sana seperti mengisi ruang antara kami berdua dengan kehangatan yang tiba-tiba. "Ayah pulang jam berapa nanti? Aku masak sop buntut kesukaan Ayah," bisiknya, dan aku bisa mendengar senyumnya melalui telepon.
780Please respect copyright.PENANAGz1dSc8B61
Aku bilang, kalau pekerjaan hari ini agak banyak, dan mungkin akan pulang di atas jam 8 malam. Aku merasa bersalah menjawab itu, karena Ayasha terdengar menggerutu di telepon.
780Please respect copyright.PENANAaIJUet4ELp
Ketika aku menutup telepon, Reza sudah berdiri, merapikan kemejanya yang agak kusut. "Istri lo emang," katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala, tapi ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Matanya berpindah ke bahuku lagi, ke bekas gigitan yang sekarang sudah mulai menghilang, dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya, bukan iri, bukan pula hasrat, tapi semacam pengakuan diam-diam bahwa ia juga pernah berada di tempatku. Atau mungkin, bahwa ia ingin berada di tempat lain sama sekali.
780Please respect copyright.PENANApRQCxWYqf3
Tak lama, aku dan Reza pun bergegas dari Starbucks dan kembali ke kantor kami.
780Please respect copyright.PENANAjftZsOA7Cf
Kaki kami melangkah berbarengan di koridor kantor yang terlalu terang, seolah lampu neon itu sengaja menyoroti setiap ketidaknyamanan yang kurasakan.
780Please respect copyright.PENANAN7V5vAyLDS
Reza berjalan sedikit di depanku, bahunya yang lebar menghalangi pandanganku saat ia tiba-tiba tertawa terlalu keras pada lelucon salah satu staf marketing, suara tawanya seperti paku yang menancap di tengkorakku. Aku memperhatikan caranya memasukkan tangan ke saku celana, sikap santainya yang terpaksa, seperti aktor yang lupa dialog tapi terus bermain peran.
780Please respect copyright.PENANASs4sUnCdWv
Aku dan Reza pun melangkah ke ruangan kantor yang terpisah bersebelahan. Dia sibuk dengan pekerjaannya, dan aku lanjut rapat dengan jajaran direksi.
780Please respect copyright.PENANA4VMg6kcApP
Rapat siang itu jadi bencana. Presentasiku, yang biasanya lancar seperti air, tersendat-sendat seperti mesin tua. "Ardi, slide berikutnya?" suara Direktur Surya menggedor kesadaranku. Aku menatap layar kosong di proyektor, baru sadar sudah lima detik diam membisu. "Maaf, Pak. Sepertinya file-nya corrupt." Kebohongan itu terasa kental di lidahku.
780Please respect copyright.PENANA82aF6TGsjF
---
780Please respect copyright.PENANA6oLviYiX9J
Jam dinding di ruang rapat sudah menunjukkan pukul 7:23 ketika Direktur Surya akhirnya melemparkan berkas presentasi ke arahku. "Kerjaan apa ini, Ardi?!" Suaranya menggema di ruangan yang tiba-tiba sunyi. Aku melihat lembaran-lembaran kertas berhamburan di lantai, slide-slide yang semalam kubuat sampai larut, slide-slide yang seharusnya berisi analisis kredit kuartalan, tapi sekarang terlihat seperti coretan anak TK. Keringat dingin mengalir dari ketiakku, membasahi kemeja putih yang masih menempel bekas gigitan Ayasha.
780Please respect copyright.PENANAenu47al5Qf
"Maaf, Pak. Saya, "
780Please respect copyright.PENANAa1HctDVaYN
"Sudah tiga jam kita di sini," potong Bu Lina dari HRD dengan suara datar. Matanya yang biasanya ramah sekarang dingin seperti es. "Dan kamu belum menjawab satu pertanyaan pun dengan jelas." Jari-jarinya yang selalu bercat merah menyentuh gelas air mineralnya, meninggalkan bekas samar di plastik bening.
780Please respect copyright.PENANAnwFjkW9tlm
Aku menelan ludah. Di luar jendela, langit Jakarta sudah gelap, hanya diterangi lampu-lampu gedung pencakar langit. Di antara siluet-siluet itu, bayangan Ayasha muncul lagi, wajahnya yang mendongak penuh napsu di kegelapan, tangan-tanamaninya yang mencengkeram sprei. "Saya akan revisi semuanya besok pagi," janjiku dengan suara serak.
780Please respect copyright.PENANApmfJF2ljEd
Tapi Pak Surya sudah berdiri, jas Armani-nya yang mahal berkerut di bagian siku. "Besok?!" hardiknya. "Kau pikir kita punya waktu untuk 'besok'? Proyek ini deadline-nya jam 9 pagi!" Tangannya menunjuk ke kalender di dinding, tepat di tanggal yang sudah dikelilingi spidol merah.
780Please respect copyright.PENANA1z7k3C8NBo
---
Pak Surya tak henti-hentinya marah. Hingga akhirnya ia menyuruhku untuk merampungkan kerjaan ini malam ini juga. Dan besok pagi harus sudah selesai. Belum sempat aku mengiyakan itu, Pak Surya dan semua direksi keluar ruangan tanpa sepatah katapun. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
780Please respect copyright.PENANAVzaaYGGKwW
Lelah dan tak berdaya membuatku menjatuhkan sekujur bahuku, membiarkannya terkulai di kursi yang dari tadi aku duduki dengan posisi kaku.
780Please respect copyright.PENANAQz7v7AEaBA
Kursi kulit hitam itu mendesah ketika tubuhku terjatuh ke dalamnya, seperti hewan kesakitan. Lampu neon di plafon berkedip-kedip, satu, dua kali, sebelum menyala penuh lagi, menyinariku dengan terang yang kejam.
780Please respect copyright.PENANAxdFkRrehXI
Aku menutup mata, membayangkan aroma sop buntut Ayasha yang pasti sudah menguap sekarang. Jam di dinding menunjukkan pukul 7:47. Seharusnya aku sudah di rumah sejam yang lalu, seharusnya aku sedang menikmati kakinya yang dingin menyelip di antara pahaku saat kami nonton sinetron kesukaannya.
780Please respect copyright.PENANAp28ipQ0eKe
Telepon di meja berdering. Ayasha. Aku mengangkatnya dengan jari-jari yang tiba-tiba gemetar. "Sayang, maaf, aku, "
780Please respect copyright.PENANAGpR8xjIm5f
"Aku tahu," potongnya, suaranya lebih lembut dari yang kuharapkan. "Reza bilang kamu harus begadang." Ada jeda kecil di sana, cukup untuk membuatku membayangkan bibirnya yang merah muda itu menyentuh gagang telepon. "Aku antar makan malam ke kantor, ya?"
780Please respect copyright.PENANARKazCf7sr8
Sebelum sempat kumenolak, garis telepon sudah mati. Aku menatap layar hitam itu, lidahku terasa seperti kertas pasir. Reza bilang. Dua kata itu mengambang di udara pengap ruang rapat, seperti asap rokok yang menolak menghilang. Kenapa Reza yang memberitahunya? Kapan mereka bicara? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku ketika aku menekan tombol lift untuk turun ke lantai pantry.
780Please respect copyright.PENANAA6ya3wcloY
Pantry kosong kecuali bau kopi yang sudah menggumpal di udara. Aku menuang air mineral ke cangkir kertas ketika suara langkah kaki membuatku menoleh. Reza berdiri di ambang pintu, tangan kanannya memegang dua kantong plastik berisi kotak styrofoam. "Dari Ayasha," katanya sambil mengangkatnya, senyum kecil mengembang di sudut bibirnya. Matanya, terlalu terang di bawah lampu fluoresens, menyimpan sesuatu yang membuat napasku tersendat.
780Please respect copyright.PENANAVq58cBtbRB
---
780Please respect copyright.PENANAfAMltCXInU
Reza hanya meninggalkan kantong plastik itu di meja, tanpa sepatah kata penjelasan. Ia berbalik, langkahnya terlalu cepat untuk disebut santai, terlalu kaku untuk disebut wajar. Pintu pantry menutup dengan desis lembut, meninggalkan aku sendirian dengan aroma sop buntut yang mulai merembes keluar dari kotak styrofoam.
780Please respect copyright.PENANAhXHNfAdu5Z
Aku tidak mengejarnya. Tidak bertanya. Ada semacam kelegaan aneh dalam keputusan untuk mengabaikan keanehan ini, seperti menarik selimut di hari dingin dan memilih untuk tidak memikirkan mengapa selimut itu terasa hangat sejak awal.
780Please respect copyright.PENANANS6yO7SFPy
Kotak makanan pertama kubuka, dan di balik kabut uap yang mengepul, ada potongan buntut sapi yang empuk dengan kuah bening berbintik lemak keemasan. Tanpa sadar, jari-jariku menyentuh bekas gigitan di bahu lagi, masih terasa perih ketika kemeja bergesekan.
780Please respect copyright.PENANAkc5ED52ufS
Jam 9:17 malam. Kopi pertama sudah habis, meninggalkan noda kecoklatan di dasar cangkir kertas. Presentasi yang kurevisi mulai berbentuk, tapi setiap kali kumencet tombol save, bayangan Ayasha muncul, bibirnya yang menggigit sendok sop, matanya yang berbinar saat menceritakan resep baru. Aku menggeleng, memaksa diri untuk fokus pada spreadsheet yang terbuka di layar.
780Please respect copyright.PENANAal0WE2ZOQG
Lampu-lampu kantor lain sudah padam sejak jam 8. Hanya bilikku yang masih terang, seperti pulau kecil di tengah lautan gelap. Satpam, Pak Joko, sudah tiga kali melongok, wajahnya yang keriput menunjukkan campuran kekhawatiran dan kelelahan. "Masih lanjut, Pak Ardi?" tanyanya pada ronde ketiga, sambil menggeser sabuk pengaman yang digantungkan di pinggangnya. Aku hanya mengangguk, tangan kananku terus mengetik sementara tangan kiri menyendok sop yang sudah mulai dingin.
780Please respect copyright.PENANAjpuxkGivwZ
,
780Please respect copyright.PENANAppN6aLgyQI
Jam 11:53 malam, jari-jariku akhirnya berhenti menari di atas keyboard. Presentasi itu, yang tadi siang jadi bahan tertawaan direksi, sekarang tersimpan rapi dalam tiga format berbeda: PDF, PowerPoint, bahkan versi cetak yang sudah kususun di map hijau khusus. Aku mematikan laptop dengan gerakan lambat, seperti mengubur sesuatu. Ini pertama kalinya aku lembur sampai hampir tengah malam. Kantor sudah sepi, hanya dengungan AC yang sudah mulai batuk-batuk kecil di lorong.
780Please respect copyright.PENANAp3NKA5ccKV
Bau kopi instan keempatku masih menyengat di bilik kerja. Kutelepon Ayasha dari telepon kantor, tapi tidak diangkat. Mungkin sudah tidur. Bekas gigitannya di bahuku terasa gatal ketika kemeja bergesekan. Aku menggaruknya tanpa sadar, meninggalkan garis merah tipis di kulit. "Nggak apa-apa," gumamku sendiri sambil mengunci laci meja, memastikan lampu-lampu sudah mati satu per satu. Suara langkahku bergema di koridor gelap, seperti orang asing yang tersesat.
780Please respect copyright.PENANAJqnQFKgLjV
Aku berjalan agak cepat menuju ke parkir basement kantor. Suasananya begitu senyap, tapi keresahan hari ini sudah cukup untuk membuatku takut sendirian di basement ini.
780Please respect copyright.PENANAJJQXw1pMXn
Mobil sedan putihku berdiri sendirian di pojokan parkiran basement. Kunci menyala dengan bunyi "klik" yang terlalu keras di keheningan malam. Begitu mesin hidup, radio langsung menyala dengan volume maksimal. Aku mematikan dengan gerakan kasar, meninggalkan kesunyian yang lebih menekan.
780Please respect copyright.PENANA4OrMryKhvL
___
780Please respect copyright.PENANAu0jS3gLnUn
Jam 12:17. Lampu merah di persimpangan Sudirman memancarkan cahaya sakit di retina yang sudah lelah. Jarum speedometer bergerak naik, 80, 90, 100, sebelum aku menginjak rem mendadak karena truk kontainer melintas di depan. Sop buntut Ayasha bergerak-gerak di perutku, rasa mual tiba-tiba muncul ketika aroma kopi keempat bercampur dengan bensin dari knalpot truk.
780Please respect copyright.PENANA0smTxK8ZYW
Aku menekan tombol jendela, menghirup udara Jakarta yang tak pernah benar-benar segar. Jari-jariku mengetuk-ngetuk setir dengan ritme yang sama seperti ketika Ayasha menggodaiku tadi pagi. *Dasar penakut*.
780Please respect copyright.PENANAUCXcrpxjbz
GPS di dashboard menunjukkan 12 menit lagi sampai rumah. Tapi rumah seperti apa yang akan kudapati? Lampu teras yang biasanya menyala kuning sudah padam ketika mobilku melintasi gerbang perumahan. Hanya cahaya bulan purnama yang menyinari pekarangan depan, memperlihatkan bayangan pohon jambu yang bergoyang pelan.
780Please respect copyright.PENANArOKbTFmTOV
Aku memarkir mobil dengan mesin masih bergetar halus, seperti kuda yang baru saja berlari kencang. Kunci rumah berderak, suara yang biasanya membuat Ayasha berteriak "Ayah pulang!" dari dapur. Malam ini hanya ada keheningan.
780Please respect copyright.PENANA3UpVY9Rxyk
Tas kerjaku kulempar ke sofa, suaranya terlalu keras di ruang keluarga yang gelap. Aroma sop buntut masih menggantung di udara, bercampur dengan sesuatu yang lain, semacam wewangian bunga yang tidak biasa. Aku menyalakan lampu kecil di meja makan, menyinari piring kotor yang masih tergeletak. Dua piring. Dua gelas.
780Please respect copyright.PENANADleIhTgwd0
780Please respect copyright.PENANAi9UJgjtXdn
---
780Please respect copyright.PENANAw0NmG6zGTK
Kaki ini terasa seperti tertanam di lantai kayu ketika aku menghitung kembali piring di meja makan, dua. Gelas pun ada, dua. Sendok yang masih basah oleh kuah sop, dua. Napasku tersangkut di tenggorokan seperti ikan berduri. "Ayah?" Suara Ayasha dari lantai atas mengiris kesunyian rumah, dari kamar tidur kami.
780Please respect copyright.PENANA4rEJ3WbvkS
Tangga kayu berderak di bawah langkahku yang berat, setiap anak tangganya seperti menarikku lebih dalam ke sesuatu yang sudah kuduga tapi takut akui. Aroma, oh Tuhan, aromanya, sudah menyergapku sebelum tanganku menyentuh gagang pintu kamar tamu.
780Please respect copyright.PENANAOp4IMirqTU
Pintu terbuka dengan perlahan, seperti adegan horor murahan yang selalu kami tonton sambil tertawa. Tapi tidak ada yang lucu dari apa yang terpampang di depan mataku sekarang.
780Please respect copyright.PENANACfBLqfYvxR
Reza. Telanjang. Punggungnya yang berotot berkilat oleh keringat, bergerak dalam ritme yang terlalu akrab di antara paha Ayasha, istriku, yang terbuka lebar. Tangan Ayasha mencengkeram guling dengan kuku-kuku yang masih bercat merah muda pucat, sama seperti warna bibirnya yang tergigit saat orgasme.
780Please respect copyright.PENANAlR2U15vYlu
Dan mereka tersenyum. Bukan senyum bersalah. Bukan senyum terkejut. Tapi senyum... penerimaan. Seperti aku adalah tamu yang diharapkan di pesta rahasia mereka.
780Please respect copyright.PENANAKcnxqLh9Vs
Reza memandangku dengan mata setengah tertutup, bibirnya melengkung dalam senyum yang bukan permintaan maaf, tapi pengakuan. "Kita tungguin kamu pulang," katanya, suaranya serak, sementara pinggulnya masih bergerak pelan di antara paha Ayasha.
780Please respect copyright.PENANAfFaemC5N0j
Aku melihat detil-detil yang tidak seharusnya kulihat: tetesan keringat di alis Reza yang jatuh ke pipi Ayasha, cara jari-jarinya mencengkeram pinggul istriku, begitu erat sampai meninggalkan bekas merah. Ayasha sendiri menungging dengan posisi yang membuatku teringat bagaimana ia biasanya merangkak ke arahku di pagi hari, tapi sekarang punggungnya melengkung untuk menerima Reza, bukan aku.
780Please respect copyright.PENANASrdBC6v5vq
"Sop buntutnya enak ga?" tanya Ayasha tiba-tiba, suaranya terengah tapi berusaha ringan, seperti kami sedang berbincang di meja makan. Bibirnya gemetar ketika Reza mendorong lebih dalam, membuat tubuhnya terguncang. Matanya, Tuhan, matanya, masih memandangku dengan tatapan yang dulu hanya untukku: hangat, lapar, meminta persetujuan.
780Please respect copyright.PENANAaQoYpaBdAS
Mulutku kering. Aku mencoba menelan, tapi tenggorokanku seperti dilapisi pasir. Kata-kata yang ingin kukatakan, "berhenti", "keluar", atau mungkin "bagaimana bisa", menguap menjadi desis nafas yang pendek.
780Please respect copyright.PENANAp4oz5h6H2Z
Reza tertawa pendek, suaranya seperti gesekan kulit pada kulit. "Dia pasti lelah," bisiknya ke telinga Ayasha, tapi cukup keras untuk kudengar. Tangannya yang besar meraih pundakku, menarikku masuk ke dalam ruangan yang pengap ini. "Kamu tidur aja," ia menambahkan, seolah-olah ini adalah tawaran yang wajar, seperti membagikan tempat duduk di bus yang penuh.
780Please respect copyright.PENANAwHYgZf7v2q
---
Kasur berderit ketika mereka bergeser, Ayahsa masih menungging, Reza masih di dalamnya, memberikan ruang kosong selebar badanku di sebelah mereka. Sprei yang biasanya putih sekarang bernoda basah, membentuk peta yang tak ingin kubaca. Aku melihat telapak kaki Reza menekan kasur dengan jari-jari yang meregang, seperti kucing yang sedang memijat.
780Please respect copyright.PENANA084p1NxTUq
Kakiku bergerak sendiri, melangkah maju. Ini mimpi buruk, pikirku. Tapi bau mereka, keringat, seks, dan parfum mahal itu, terlalu nyata untuk dikatakan tidak nyata. Kucium aroma sop buntut yang masih menempel di baju kerjaku, bertabrakan dengan keharuman lain yang lebih liar dari tubuh mereka.
780Please respect copyright.PENANAwPfYAnBjn8
"Ardi..." Ayasha mengulurkan tangan, jari-jarinya yang biasanya memegang sendok sop sekarang menggenggam guling dengan erat. Ia tersenyum, senyum yang sama seperti ketika ia menungguku di depan pintu dengan handuk setelah aku kehujanan. Hanya sekarang bibirnya bengkak oleh sesuatu yang bukan gigitanku.
---
"Sayang, kamu tidur saja dulu," bisik Ayasha, suaranya terengah tapi lembut seperti ketika ia membujukku mencoba resep barunya. Matanya, yang biasanya mengembang seperti bulan purnama saat orgasme, sekarang setengah tertutup oleh kelelahan, tapi pupil-pupil itu membesar lagi ketika Reza menampar pantatnya. Suara "plak!" itu menggema di kamar yang pengap, meninggalkan bekas merah di kulitnya yang putih mulus.
780Please respect copyright.PENANAYDvxVMkTf9
Aku mengangguk. Mengangguk seperti orang bodoh yang baru saja diberitahu langit itu biru. Mengangguk seperti karyawan yang disuruh lembur tanpa bayaran. Mengangguk seperti Ardi yang tidak tahu harus melakukan apa selain mengiyakan apa yang dikatakan istriku, atau mantan istriku? Tuhan, aku bahkan tidak tahu gelar apa yang pantas sekarang.
780Please respect copyright.PENANAQUzkKa08F8
Kasur bergoyang ketika aku merebahkan diri di samping mereka, seperti penonton di pertunjukan porno paling aneh sepanjang sejarah. Aromanya menusuk: keringat Reza yang asam bercampur minyak wangi mahal itu dan sesuatu yang lebih dalam, bau seks yang kental, seperti daging mentah yang dibiarkan di bawah terik matahari.
780Please respect copyright.PENANASCetNKrpnt
Pergelangan tangan Ayasha bergerak pelan, jarinya yang masih bercat merah muda menyentuh pahaku. "Ayah pasti capek," bisiknya, tapi kontak itu terputus ketika Reza menggenggam pinggulnya lagi, mendorong lebih dalam sampai Ayasha menjerit kecil. Jeritan yang dulu hanya untukku.
780Please respect copyright.PENANA6p2QwBYYLl
Aku menutup mata, tapi suara mereka masuk melalui celah-celah telingaku: desahan Reza yang berat, cekikan Ayasha yang bernada tinggi, bunyi kulit saling gesek seperti daging mentah yang dipukul-pukul. Kasur berderit dalam ritme kuda poni mekanik yang rusak, satu, dua, tiga, pause, lalu lebih cepat lagi.
780Please respect copyright.PENANABWl6SpmJGG
Aku tidak tahu kapan tepatnya tertidur. Yang kuingat hanyalah suara mereka, desahan Reza yang semakin kasar, erangan Ayasha yang semakin tidak terkendali, bercampur dengan bunyi kasur yang berderit seperti kapal tua yang hendak tenggelam. Lalu gelap. Gelap yang hangat dan basah oleh air mata yang bahkan tidak kusadari sudah mengalir.
------
780Please respect copyright.PENANAOeramxn5cD
780Please respect copyright.PENANAKgfXZX7u1x
780Please respect copyright.PENANAcqjHruQDux
780Please respect copyright.PENANAN1u5VYM6Xc
780Please respect copyright.PENANAjVpBb5puEN
780Please respect copyright.PENANAX5YvqdNFt8
780Please respect copyright.PENANAI6hGrlsnAs
780Please respect copyright.PENANAiRLBRyv8so
780Please respect copyright.PENANAr7oFpp7Uz7
Ketika terbangun, mataku terasa bengkak dan perih. Air liur mengering di sudut bibir. Cahaya bulan menyelinap dari celah tirai, menerangi dua siluet yang masih bergerak di sampingku. Reza sekarang berbaring telentang, dengan Ayasha di atasnya, rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan seperti sarang burung, menggelantung basah di punggungnya yang berkeringat. Mereka tidak melihatku. Atau mungkin memilih untuk tidak melihat.
780Please respect copyright.PENANAkrbezT0q9J
------------------
780Please respect copyright.PENANAWK7yTMLMgs
Dua bulan telah berlalu sejak malam itu, dan aku masih belum pernah bertanya. Tidak tentang kapan mereka mulai. Tidak tentang siapa yang lebih dulu menginginkan ini. Tidak tentang apa yang mereka lakukan saat aku tidak ada. Pertanyaan-pertanyaan itu mengambang seperti asap rokok yang sengaja tidak kuhirup, hanya kubiarkan menggantung sebelum akhirnya menghilang dengan sendirinya.
780Please respect copyright.PENANAdhHdc6R22A
Aku bangun dengan bekas cakaran baru di punggung, garis-garis merah tipis yang akan berubah ungu dalam beberapa jam. Ayasha sudah bangun, ranjang di sebelahku kosong tapi masih hangat. Dari balik pintu kamar mandi terdengar suara air dan desahan Ayasha yang kukenal terlalu baik. Suara lain, desahan lebih dalam, lebih berat, membuatku tersenyum kecut. Reza.
780Please respect copyright.PENANASrOrdsN3QE
Kubuka lemari pakaian. Kaos oblong favoritku yang biasa dipakai Ayasha saat tidur tergantung longgar di gagang pintu, masih basah oleh keringat Kumandulkan kaos itu kembali dengan hati-hati, seperti menyimpan bukti kejahatan yang tidak ingin kuselesaikan.
780Please respect copyright.PENANAUzznYqqXuz
"Pagi, Sayang." Ayasha muncul dari kamar mandi hanya dengan handuk kecil di pinggang, rambutnya meneteskan air ke bahu yang penuh bekas gigitan. Bibirnya bengkak, tapi matanya bersinar seperti biasa saat melihatku. Ia mendekat, tangan dinginnya menyentuh perutku yang masih kosong. "Lapar?" tanyanya sambil menggigit telingaku, persis seperti dulu.
780Please respect copyright.PENANAzZQWoHnL8m
Di belakangnya, Reza keluar dengan hanya handuk di pinggang. Badannya yang kekar, lebih kekar dariku, dipenuhi bekas cakaran merah mirip di punggungku. Ia menganggap sambil mengeringkan rambutnya yang pendek, lalu tanpa malu-malu melepas handuknya dan mulai berpakaian di depan kami. Ayasha memandangnya dengan tatapan yang membuat perutku mulas, tatapan yang dulu hanya untukku.
780Please respect copyright.PENANA0JSZXjlExI
----
780Please respect copyright.PENANA7WQoVukx2H
Aku menatap cermin di atas wastafel kamar mandi, wajah yang memandang balik terlihat asing, garis-garis lelah di sekitar mata, bibir kering yang tak kunjung sembuh meski sudah kuoleskan lipbalm Ayasha. Air dingin yang kucipratkan tak bisa menghapus fakta bahwa Reza sekarang tinggal di sini, di rumah kami. Kamarnya, yang dulu kamar tamu, kini berubah menjadi ruang personal dengan bau parfumnya yang mahal dan kaos-kaos hitam bergantung di pintu lemari.
780Please respect copyright.PENANAe7vExcEMmH
Awalnya kubayangkan ini hanya fase sementara, semacam eksperimen seksual yang akan pudar dalam beberapa minggu. Tapi kini, setelah dua bulan, aku menemukan sikat gigi ketiga di gelas keramik Ayasha, handuk ketiga di gantungan, dan sepatu kulit Reza yang selalu rapi di rak depan. Yang lebih aneh lagi, aku mulai terbiasa.
----------------------------
780Please respect copyright.PENANARCTShQiOCr
780Please respect copyright.PENANAofgheab8uQ
780Please respect copyright.PENANAaO6F7g6hiX
780Please respect copyright.PENANAB8uvEggkss
780Please respect copyright.PENANAgjnlLRUYOj
780Please respect copyright.PENANABi34W7syRY
780Please respect copyright.PENANAOtPkqlpOus
780Please respect copyright.PENANABc57ygXUPr
780Please respect copyright.PENANAQ88309WusT
780Please respect copyright.PENANAIrVn9cR2us
780Please respect copyright.PENANA9N4dsTNImb
780Please respect copyright.PENANA2kBVjvLRAd
780Please respect copyright.PENANAldYsaZqhaZ
Malam pertama mereka memintaku bergabung, aku berdiri kaku di tepi kasur seperti aktor figuran yang lupa dialog. Tapi sekarang, tubuhku bergerak otomatis saat Ayasha menarik lenganku, bibirnya yang sudah terlatih dalam seni manipulasi halus membisikkan "Ayah mau giliran pertama atau kedua?" seperti menanyakan mau kopi atau teh.
780Please respect copyright.PENANANE3lp6IO20
Ada momen-momen jujur di antara kita bertiga, ketika Reza dan aku saling memandang di atas tubuh Ayasha yang terbelah, bibirnya menggigit bantal sementara kedua tangan kami saling bersentuhan di pinggulnya. Dalam detik-detik itu, aku bisa melihat ketakutan yang sama di matanya: *Kita sudah sejauh apa?*
780Please respect copyright.PENANAgeJuxs9gmp
Tapi kemudian Ayasha akan mengerang lebih keras, menggenggam erat tangan kami berdua, dan segala pertanyaan tenggelam dalam pusaran daging yang basah dan panas. Aku belajar hal-hal baru tentang istriku, bagaimana dia menggeliat berbeda saat Reza menyentuhnya, suaranya yang lebih serak ketika orgasme dengan kontol Reza yang lebih panjang di dalamnya. Aku seharusnya cemburu. Tapi yang kurasakan justru semacam kebanggaan aneh, seperti penonton yang terpesona melihat karyanya dihargai orang lain.
780Please respect copyright.PENANAtMUuk610ZW
"Malam ini aku mau kalian berdua," bisik Ayasha tadi malam sambil jarinya melingkari pergelangan tangan kami, menarik kami ke kamar seperti algojo membawa tahanan. Aku melihat panik sekilas di mata Reza, baru pertama kalinya kami bertiga benar-benar bersatu. Kasur berderit di bawah berat tiga tubuh dewasa ketika Ayasha membimbing kami dengan tangan dinginnya yang mahir. "Sini," desisnya sambil memosisikan kepalaku di antara pahanya yang terbuka, sementara tangan lainnya menuntun Reza ke belakangnya.
780Please respect copyright.PENANATmyaUUs9mI
Aroma mereka memenuhi rongga hidungku, keringat Reza bercampur parfumnya yang mahal, dan juga bau keringat dari leher Ayasha yang selalu kusukai. Lidahku bergerak otomatis di tempat yang sudah terlalu kukenal, sementara di belakangku, aku mendengar suka plastik pembungkus kondom robek. Ayasha mengerang lebih keras ketika Reza memasuki dari belakang, tubuhnya terjepit di antara kami seperti sandwich manusia.
780Please respect copyright.PENANAjiAY6419C8
"Lebih kasar dong, ayo dong sayang..." Ayasha mengatur napas dengan suara terengah, tapi kedua tangannya justru menarik rambutku dan kepala Reza lebih dalam ke tubuhnya. Aku melihat mata Reza dari balik paha Ayasha yang terbuka lebar, matanya yang biasanya dingin sekarang melebar, hitam pekat oleh hasrat yang sama yang menggelora di dadaku. Untuk pertama kalinya sejak semua ini mulai, kami saling mengangguk dengan pengertian aneh, dua musuh yang bersekutu sementara untuk memburu mangsa yang sama.
780Please respect copyright.PENANAiHCkroa8mp
Kasur berderit keras ketika Reza mulai mendorong perlahan, membuat Ayasha melengkung seperti busur panah antara kami. Tanganku yang mencengkeram pinggulnya merasakan setiap sentakan tubuh Reza, setiap inci yang hilang kemudian muncul kembali dengan basah. Kulit telapak tanganku bersentuhan dengan jari-jari Reza yang juga menggenggam erat, kami seperti dua algojo yang memegang tali hukuman gantung yang sama.
780Please respect copyright.PENANAaFSwhWpBKf
"Lebih keras," gerutu Ayasha tiba-tiba, suaranya parau seperti belum pernah digunakan selama bertahun-tahun. Matanya yang setengah tertutup sekarang terbuka lebar, memandang kami berdua bergantian dengan tatapan yang membuatku teringat bagaimana ia melihat menu makanan favoritnya di restoran mahal.
780Please respect copyright.PENANA6MIioGD8e0
Reza adalah yang pertama menanggapi, genjotannya tiba-tiba berubah dari ritme terukur menjadi gerakan kasar seperti mesin pemotong rumput yang macet. Aku merasakan tubuh Ayasha terlempar ke arahku setiap kali Reza menarik pinggulnya kembali, membuat bibirku tergesek kulit perutnya yang halus. Ada sesuatu yang ganas dalam cara kami memperlakukannya sekarang, bukan sebagai istri atau kekasih, tapi sebagai wadah untuk kemarahan kami yang tak terucapkan.
780Please respect copyright.PENANAMBQ0QqJmdF
Oh tuhan, suami macam apa aku ini?
Ini salah tapi ini enak
780Please respect copyright.PENANARVsfwR12QW


